darkasuka

  • Archive
  • RSS
  • Ask me anything

La BubbleRoom/BubbleTree

cabbagerose:

via: brocadedesignetc

  • 1 year ago > cabbagerose
  • 200
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
tembuslah batas. ambil keputusan, buat tindakan. kalau tidak, jangan repot2 bermimpi. hanya akan jadi lamunan siang bolong yg membuang2 waktu berhargamu.
darkasuka
  • 1 year ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
dear time, don’t fly away without my permission…. TT don’t you ever want to blown up and give me extra time instead? #dream
darkasuka
  • 2 years ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
conservative-failure:

The Shard of Glass.. or the London Tower Bridge by: Renzo Piano
View Separately

conservative-failure:

The Shard of Glass.. or the London Tower Bridge by: Renzo Piano

  • 2 years ago > conservative-failure
  • 2
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

pemuda itu (chapter 1)

Pemuda itu merangsek perlahan dari duduknya. Berdiri, kemudian melangkah dengan penuh wibawa di tengah penampilannya yang tak biasa. Sontak, beberapa anak kecil mengerumuninya, mengucapkan kata-kata tak sopan sekedar untuk menyenangkan hati mereka, atau mungkin sekedar permainan kecil tatkala jenuh di sore hari. Tapi pemuda itu tetap saja tak peduli. Ia terus berjalan, membawa segenap puisi yang melantunkan memori hidupnya.

Entah kenapa, mataku tak bisa lepas darinya. Kendati tak bisa kupungkiri, tidak ada manusia-manusia di sini yang memperhatikannya kecuali sebagai pengganggu, perusak keindahan kota yang telah dibangun bersama. Kendati ia hanyalah sebentuk realita yang, bagi manusia-manusia itu, tak punya makna. Kendati ia hanya bisa dipandang sebagai satu eksistensi “luar” yang menjadi pemanis hidup. Namun, jauh di dalam saraf-saraf penalaran otakku, ia seperti satu dongeng yang telah terkubur dalam pusara prasasti zaman, atau kisah yang tak rampung saat coba untuk dituangkan, atau mungkin fabel yang terlalu tabu untuk dibicarakan.

Ketika hati mulai jenuh, dan indra penglihatan lelah untuk terus melihat, pemuda itu terdiam. Memandangi tas plastik yang ada di tangan. Tapi kemudian ia mendongak. Menatap tepat ke hadapannya, menatapku. Di bibirnya tersungging seutas senyum kecil, kemudian bergerak membentuk kata-kata yang membuyarkan pintu masa lalu, “Akulah dewa! Akulah dewa!”

Aku terperangah. Seutas irama tak jelas berdenyut di ulu hatiku. Kacau.

Ada sejenis rasa sesal merajah, sejenis rasa iba menghampiri. Seakan dihadapkan pada sebuah fakta yang tak akan mampu diterima. Seakan dihadapkan pada jutaan pernyataan yang tak punya titik. Seakan merobek cerita yang telah ditulis dengan melodi yang menentramkan jiwa.

Bukankah tak ada kebodohan yang lebih indah dari ini?

 

Hidup adalah lukisan berbagai macam wajah dengan aneka bentuk dan dilema. Dengan berbagai guratan yang menyiratkan asa, harap, kecewa, sia-sia, bahagia, bahkan merana. Semuanya terangkum dalam satu gambaran halus dunia. Seperti kumpulan jutaan lelembut yang menghias siang, semuanya tanpa rupa. Menari dalam irama dan gerak logika subyektivitas pancaran indra.

Aku sendiri salah satu dari mereka, terduduk diam mengamati satu demi satu lelembut melayang di dalam lingkaran yang berbeda warna. Hijau, biru, ungu, putih, bahkan tak berwarna. Duniaku seperti dunia mereka yang telah meninggalkan gemerlap masa remaja. Kehidupan,Makanan, dan pekerjaan yang harus dihadapi demi memperoleh kata hidup. Harus diselesaikan demi menendang jauh-jauh makian ‘dia’ yang duduk di atas. Entahlah, uang, pendidikan layak, lingkungan dan surat hutang, semuanya berputar layaknya gasing putra tetanggaku yang baru berusia enam tahun. Berputar, memperhalus makna corak yang diciptakan di atas kayu yang dibentuk indah. Semuanya bergerak pada metafisika, kendatipun pembuatnya sendiri tak pernah kenal apa arti pengetahuan.

Memandang muram di balik pintu seakan mampu mengubah sedikit saja gambaran lukisan kehidupan yang belum finish, kucoba kembali menengok duniaku yang segera harus kujalani. Namun, hari ini tumpukan bahan untuk kuracik menjadi sumber penghidupan itu tak lagi menyenangkan, jenuh sudah. Muak. Menjadi satu hal yang ingin kuhindari. Hasil olah pertiwi yang tak mau anaknya hanya diam saja dan bergerak stagnan dalam alur ceritanya. Mencoba membuat sejarah yang pada akhirnya hanya akan diingat anak cucuku seorang. Perbuatan yang sia-sia. Siapa yang akan tahu keturunanku tak akan habis hingga sekian tahun lagi?

  • 2 years ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

tentang keyakinan

berbicara tentang keyakinan sudah barang tentu harus dilakukan dengan logika dan kerendahan hati yang tinggi. jika tidak, bukankah hanya menjadi satu upaya menambah perpecahan masyarakat??

menulis ini bukan berarti saya lebih tahu, atau berusaha untuk sok tahu. hanya terkadang beberapa pemikiran tidak lagi sanggup saya simpan di kepala, beberapa pemahaman saya yang mungkin terdengar ekstrim atau aneh, mulai meronta-ronta minta diberi sekedar ruang ekspresi untuk bergerak.

dimulai dari beberapa kalimat rekan, atau beberapa artikel, atau beberapa kasus yang sekarang sedang diumbar di media massa. tapi saat ini yang saya soroti adalah satu bentuk kecil usaha sekelompok orang yang menurut saya mungkin perlu ditinjau ulang.

pertanyaan pertama yang muncul adalah, bagaimana kita mengharapkan persatuan agama (dalam hal ini Islam, agama saya sendiri) yang kuat dan mampu berdiri di tengah hingar-bingar yang kacau balau, ketika sekelompok orang tersebut malah membentuk eksklusivitasnya sendiri dari orang yang belum tahu atau mungkin mencoba tahu bagaimana beragama yang baik dan benar, bahkan dari hal yang sangat sederhana dan mendasar. ada hal-hal yang menurut mereka — mungkin — agamis dan memang sudah standar, yang seringkali justru tidak bisa saya logikakan. padahal agama adalah suatu hal yang ilmiah, bukan? :)

bahkan dari cara menyapa saja, ada diskriminasi antara mereka yang menyebut diri mereka pendakwah dengan mereka yang mungkin dalam kategori ‘akan didakwahi’. kenapa harus memanggil ukhti, akhi, dan sebagainya, ketika kita bahkan tidak dalam garis keturunan masyarakat arab dan sekitarnya? apakah ketika kita tetap memanggil mbak, atau mas, atau tante dan om, kadar keislaman dan keimanan kita akan berkurang? kalau tidak kenapa harus dirubah? apakah bahasa ukhti dan akhi lebih mulia di mata Tuhan dari bahasa Jawa Minang Papua yang menjadi asal lahir kita? dengan begini bukankah kelompok-kelompok itu malah akan menjadi terasing dan segan untuk dimasuki orang-orang baru yang ingin belajar?

yang kedua adalah prinsip “pokoknya” yang sering kali saya dengar dalam diskusi-diskusi keyakinan. bukankah diskusi agama adalah diskusi ilmiah? jika ya, saya rasa prinsip ini sudah tidak layak lagi dibawa-bawa. segala hal yang digariskan oleh Yang Maha Kuasa, adalah sesuatu yang bisa diterima oleh akal sehat. jika tidak — yang benar mungkin adalah belum — maka kita harus mencarinya dengan seksama, mempelajarinya kemudian meyakininya dengan penuh kesadaran. bukan dengan serta merta mengambil sebuah firman lalu mengikutinya begitu saja apa adanya tanpa pemahaman. bukankah Tuhan memberikan perintahNya tidak selalu dengan bahasa yang eksplisit, justru agar umatnya berpikir dan belajar??

yang ketiga, dan terakhir kali ini, ketika saya membaca seseorang berkata tentang muslim sejati dan bukan, menunjuk si A sebagai muslim sejati dan B bukan dan C kafir dan seterusnya, apakah beliau telah menguasai keilmuan muslim dan tahu benar bagaimanakah muslim sejati itu? tidak adakah sedikit saja kerendahan hati dalam pola fikirnya untuk menengarai bahwa mungkin saja diri sendirilah yang kafir dan tidak dapat memenuhi perintah Tuhan dengan baik?

sekali lagi ini adalah pemikiran sederhana dari saya yang ingin belajar. no mention, no offense, hanya ingin membuka diskusi dan pemikiran dari benak yang sederhana :)

  • 2 years ago
  • 1
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
boasting your way of thinking just to get attention is wasting your time and your feeling. just let it through, nobody will try to care anyway
darkasuka
  • 2 years ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

PARADOKS

Tak pernah aku berani bertanya pada mereka
Tentang arti kebijaksanaan
Yang mengalir di atas sungai Gangga
Melewati kota-kota yang terlupa akan bingarnya
Hanya tersenyum
Menikmati lagak lagu udara
Yang selalu berhasil menempatkan dirinya
Dalam lantunan ruang yang tak henti bicara

Air mengalir ke tanah
Daun-daun bergemeresak perlahan
Menemani burung-burung yang bermain dalam tenang
Bersahabat dengan hijau yang mengalun dalam bimbang
Itulah sebenarnya surga, kawanku
Jika kau mau tahu
Hanya bagimu semua adalah neraka
Yang menyiksa walau tanpa dosa
Yang membuat sengsara walau tak pernah tahu sedih dan dilema
Hanya bagimu semua adalah dusta
Ilusi metafisik ciptaan manusia
Yang dibuat hanya dengan nafsu serakah
Karena segenggam hati telah dibuang ke sungai-sungai pembawa sampah

Air adalah minyak yang memabukkan, katamu
Daun-daun adalah uang yang mengundang setan
Dan burung-burung adalah pelacur akademis yang membuatmu muak
Tak ada merah dan putih
Hanya gelap, yang tak berani memunculkan warna
Hanya suram, yang tak berani keluar dari persembunyiannya

Kadang kucoba menelaah
Apakah matamu dan mataku diciptakan dengan komposisi berbeda
Saat kulihat awan, kaulihat tanah
Saat kutengarai hangat, kau bilang menggigil oleh angin
Hanya stereotifik, katamu
Atau bahkan skizofrenia akut yang tak kenal batas
Atau bahkan retoris kebosanan manusia
Yang tak pernah diam dalam cerah dan buram
Yang hanya menangis, walau dalam gelak kepongahan

Jika suatu saat kautemukan surga
Yang menghiburmu dengan dewi-dewi pembawa bunga
Atau semerbak musik yang menyentuh sanubari
Atau emas yang menyeruak layaknya api
Berhati-hatilah, kawan
Karena mungkin saja itu adalah neraka
Dimana air adalah minyak yang memabukkan
Daun-daun adalah uang yang mengundang setan
Dan burung-burung adalah pelacur akademis yang membuatmu muak

  • 2 years ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

KISAH BISU

Bulan kini membangun jutaan keberanian di sela tangisnya
Merindu sejumput siang menyapa di balik awan pedih menghela
Yang selalu mengejar terang kendati kalah oleh senja
Mencari seulas cinta terkubur di antara balutan luka
Sambil berteriak bisu, merintih, “Ini aku!! Ini aku!!”

Tapi siapa yang akan peduli?
Siapa yang akan mendengar?
Semua telah jadi tuli saat itu, bahkan arwah-arwah pencari sukma sekalipun
Hanya malam yang terus ada untuknya
Menemaninya merajut benang rindu sang kekasih
Hingga luka jadi badan
Hingga terus tertatih, mencari malam-malam lain yang terpendam

Namun, buih jiwanya bergolak
Mencari makna penantian jiwa
Menunggu,
Coba membuang segala penat dan hampa
Yang seakan buta, meraup jutaan lumut nista

“Kekasihku di sana,” katanya pada sejumput jiwa
Memandang seulas pongah terbalut selimut dunia
Bergulung, berputar, terjebak dalam kefanaan

Bulan masih membangun jutaan keberanian di sela tangisnya
Seakan memeluk derita tanpa mengindahkan petuah prasasti zaman
Seakan berjabat tangan dengan sial tanpa memedulikan jerit tangis nisan pusara bumi
Mengetuk seutas hati dalam lautan petaka
Sambil berteriak bisu, merintih, “Ini aku!! Ini aku!!”

Tapi siapa yang akan peduli?
Siapa yang akan mendengar?
Pun kekasih hatinya yang kini berkutat antara pusaran hidup berbalut
Merenda waktu, membuang aliran tangis cahaya bulan meredup
Berpaling wajah dari bulan tengah usia yang hitam perlahan

Namun di suatu potongan waktu
pernah kulihat bulan coba kembali membangun jutaan keberanian di sela tangisnya
Tertatih, mengharap iba Tuhan seraya berkata, “Tolong aku, Tuhan! Tolong aku!”
Tapi bukankah semua telah tuli?

Dan ia hanya bisa kembali berlalu
Bungkus diri dalam hitam memeluk hangat
Menangis, walau tak tertatih

Di potongan waktu yang lain
Sekilas kulihat ia melintas di hadapanku
Berhias senyum terenda sempurna
“Aku selamat” ucapnya girang
Tak kan kekasih hati beranjak cinta dunia
Tak kan tangis merajuk membahana
Karena kekasih tlah terpendam di pelupuk mata

Tapi toh tak ada guna ia berujar
Bukankah semua masih tuli dalam katanya?

  • 2 years ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Old Poems (3)

Bumi kini telah takut pada atmosfer
Berputar cepat seakan tak kenal derita dan dunia
Tak lagi disayang, tak lagi dibelai
Hanya aku yang menenun sunyi
Menjahitnya menjadi jutaan angkuh dan ambisi

Detik-detik kini tak sabar menyeruak
Menendang menghempas apa yang jadi pijak
Melumat membunuh semua yang jadi akar
Membentuk nestapa
Mengalirkan sungai air mata

Lampu-lampu kini tak mau lagi mengantri
Berebut berkedip menghabiskan energi
Menghempas tawa bodoh dan lugunya saraf kecongkakan
Merusak tatanan hati dan berlanjutnya logika bunyi

Tapi mengapa semua jadi tersenyum di tapakmu?

  • 2 years ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
Page 1 of 2
← Newer • Older →

About

architectural student, thinker, loner, writer, drawer, sushi addict

Twitter

loading tweets…

  • RSS
  • Random
  • Archive
  • Ask me anything
  • Mobile
Effector Theme by Pixel Union